Kolesterol dalam batas normal sangat penting bagi tubuh. Kolesterol merupakan prekursor bagi sintesis asam empedu (untuk mencerna lemak) dan beberapa hormon seks seperti progesteron dan testoteron. Bagi anak-anak balita, kolesterol merupakan penyusun otak sehingga sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak. Masalahnya adalah apabila asupan kolestrol berlebihan sehingga memunculkan risiko pengapuran pembuluh darah. Kolesterol dapat menempel pada permukaan sebelah dalam dinding pembuluh darah.
Kolesterol melekat lapis demi lapis, perlahan-lahan bagaikan perjalanan panjang yang butuh waktu Aliran darah pun tidak lancar melewatinya dan oksigen yang melayang-layang dalam darah semakin tidak cukup untuk metabolisme sel otot jantung. Ada ketidakseimbangan antara oxygen supply dengan oxygen demand. Padahal, metabolisme dalam sel otot jantung sepenuhnya adalah earobik yang artinya membutuhkan oksigen. Jika metabolisme anaerobik yang terjadi, asam laktat akan semakin menumpuk. Zat ini akan menoreh saraf dan menimbulkan rasa nyeri yang hebat di balik tulang dada (angina pectoris).
Aterosklerosis atau proses pengapuran dan penimbunan elemen-elemen kolesterol tidak jarang sudah mulai terjadi pada usia yang masih sangat muda. Proses mengerasnya pembuluh darah merupakan suatu proses yang berjalan diam-diam, perlahan-lahan, namun pasti.
Studi yang dilakukan oleh WHO (1976) menyimpulkan bahwa progesi pengapuran koroner bertambah sebesar 3 persen per tahun sejak usia seseorang melewati 20 tahun. Kenyataan ini membuktikan bahwa progesivitas pengapuran pembuluh koroner sesungguhnya memang menggulir diam-diam dan senantiasa membawa bahaya laten.
Oada awalnya memang terjadi luka pada permukaan dinding pembuluh koroner yang mungkin disebabkan oleh infeksi, iritasi, gesekan tekanan darah pada hipertensi, dan lain-lain. Luka ini kemudian menahan elemen-elemen kolesterol sehingga terjadi penyumbatan pembuluh darah. Aterosklerosis wajar terjadi apabila usia seseorang sudah tua. Namun, tidak wajar apabila hal ini menyerang pada usia muda, pada saat seseorang sedang berada di puncak produktivitas hidupnya.
Masalah kolesterol sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner adalah fundamental untuk diperhatikan. Di Jepang insiden penyakit koroner relatif rendah karena kadar kolesterol mereka umumnya rendah. Namun demikian, di kota-kota metropolitan Jepang yang sudah mengalami pergeseran pola makan, kecenderungan penyakit jantung koroner tampak meningkat.
Untuk menurunkan risiko aterosklerosis, kita disarankan memiliki kadar kolesterol total <200 mg/dl dan kolesterol LDL (jahat) <130 mg/dl. Lebih dari itu akan memunculkan aterosklerosis.
Setiap hari tubuh kita memerlukan 1100 mg kolesterol yang sebagian besar diproduksi oleh hati dan hanya 300 mg yang berasal dari makanan.
Penyakit jantung disebabkan oleh beberapa faktor yang bersifat kompleks. Hidup penuh stres yang merupakan salah satu penanda gaya hidup modern juga dapat mengakibatkan munculnya penyakit jantung. Kini semakin disadari bahwa terlalu besarnya kecemasan, banyaknya sifat agresif, dan rasa permusuhan dapat memberikan kontribusi terhadap ketidakefisiensienan jantung dalam memompa darah. Di bawah ini disajikan kandungan kolesterol dalam berbagai makanan.
Tabel Kandungan Kolesterol dalam Makanan (per 100 g)
Pangan | Kolesterol (mg) |
Daging sapi Daghing ayam(tanpa kulit) Kerang Lobster Udang Telur (per butir) Jantung Hati sapi Hati ayam Otak | 88 88 53 92 178 252 272 430 734 1975 |
Penelitian membuktikan bahwa arithmias jantung yang membahayakan jiwa dapat terjadi ketika menghadapi situasi tegang. Level kolesterol sering kali meningkat ketika sesorang dilanda stres, misalnya ketika mahasiswa sedang mengahadapi ujian, ibu-ibu pada saat tanggal tua, atau serdadu yang akan dikirim ke medan perang.
Cara untuk Menekan Risiko Penyakit Jantung
Menghindarkan diri sepenuhnya dari stres atau lari dari situasi yang menyebabkan stres hampir tidak mungkin dilakukan. Sebagai gantinya kita harus bisa mengubah cara kita dalam berinteraksi dengan stres. Salah satu kiat yang dapat dilakukan adalah bernapas dengan sadar sebagai salah satu bentuk reklaksasi. Hal ini akan membuat kita mau menerima keadaan dan berperilaku lebih sbar. Kita juga perlu mengembangkan kemampuan untuk lebih mencintai diri sendiri atau keluarga kita sebagaimana adanya, serta tidak silau oleh gemerlap kemewahan di sekitar kita. Gaya hidup di era modern dengan aktivitas fisik ringan akan memudahkan terjadinya penumpukkan lemak tubuh. Proses tyimbulnya lemak di sekeliling tubuh kita berlangsung perlahan, lama, dan sering kali tidak disadari.
Besarnya lingkar pinggang menunjukkan bahwa seseorang menderita kegemukan. Gemuk perut (abdominal obesity) merupakan kondisi yang harus diwaspadai karena berjaitan dengan penyakit jantung. Pada dasranya obesitas dapat terjadi karena faktor exogenous (konsumsi energi berlebihan) atau endogenous (adanya masalah metabolik yang memicu obesitas). Dalam hal obesitas endogenous, terjadi kondisi klinis yang menyebabkan nafsu makan naik secara tidak normal.
Fasilitas perkantorn dan belanja yang dilengkapi dengan lift atau elevator menyebabkan seseorang malas untuk berjalan dan menbggerakkan anggota tubuhnya. Sementara kesibukan di tempat kerja atau dirumah tidak menyisakan waktu sedikitpun bagi kita untuk mau berolahraga.
Kegiatan exercise harus dilakukan dengan prinsip FIT: frequency, intensity, dan time. Frekuensi artinya kita melakukan latihan fisik secara teratur dengan jeda wajtu yang tetap. Umumnya pakar olahraga menyarankan frekuensi 3 kali seminggu berolahraga cukup untuk menjaga kesehatan.
Intensitas lalatihan yang tepat penting untuk mencapai kebugaran yang optimal. Cara termudah untuk mengetahui intensitas latihan adalah dengan tes bicara. Jika Anda tidak bisa berbicara ketika latihan, hal itu menjadi indikasi bahwa Anda berlati terlalu keras. Sebaliknya apabila kita masih bisa bercerita panjang lebar pada saat laihan, mungkin latihan kita kurang berat.
Meluangkan waktu selama 30 menit untuk kegiata aerobik dengan frekuensi 3 kali seminggu adalah maemadai. Dengan aktivitas fisik yang bersifat aerobik, kita akan mendapatkan manfaat berupa penurunan berat badan dan perbaikan profil lipid. Perbaikan profil lipid yang dimaksud mencakup berkurangnya kjolesterol LDL (jahat) dan meningkatnya kolesterol HDL (baik) yang selanjutnya bermanfaat untuk menekan risiko penyakit jantung.
Sumber:
Khomsan, Ali, 2006, Solusi Makanan Sehat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.